ALLAH PENDAMAI: MEMBANGUN HIDUP BERSAMA BERDASARKAN PADA JEMAAT PASCAKONFLIK

  • Sartje Papoeling Universitas Hein Namotemo
Keywords: Alkitab, Teologi, Perdamaian, Hubungan, Agama

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil pengamatan peneliti bahwa sesudah konflik sosial dengan nuansa keagamaan yang terjadi di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, hubungan antarmasyarakat yang berbeda agama berjalan dengan penuh kecurigaan. Setiap isu yang muncul kepermukaan yang terkait dengan kekuasaan seperti pemilihan bupati dan wakil bupati, pemilihan anggota DPRD, pengangkatan pejabat daerah dan sampai pada pengangkatan pegawai negeri sipil selalu dikaitkan dengan persoalan agama. Seolah-olah semua proses yang telah disebutkan tadi akan selalu mempertimbangkan latar belakang agama dari yang dipilih atau diangkat. Hal ini menunjukkan adanya pemahaman bahwa jabatan politik dan pejabat negara serta pegawai negeri merupakan wujud dari penguasaan salah satu pihak kepada pihak lain. Seolah-olah bahwa mereka yang diangkat dan dipilih tersebut memiliki kontribusi langsung pada agama yang dipeluk oleh para pejabat tersebut. Dengan kenyataan ini maka aspek penting yang perlu diperhatikan adalah ajaran-ajaran yang terkandung dalam setiap agama. Ajaran-ajaran agama yang bersumber dari kitab suci memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan dari para pemeluknya. Selain itu tidak dapat disangkal peran dari tokoh agama untuk menyampaikan pengajaran dalam kitab suci itu berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki. Penelitian ini memperlihatkan bahwa konsep Allah pendamai itu telah menjadi dasar pijak bagi umat Kristen dalam melihat perdamaian dengan umat berbeda agama.

Author Biography

Sartje Papoeling, Universitas Hein Namotemo

Program Studi Filsafat Keilahian

Published
2019-12-20
Section
Articles